Ahlan Wasahlan . . .

Jumat, 12 September 2008

SIAPAKAH AHLUS SUNNAH?


Istilah Ahlus Sunnah tentu tidak asing bagi kaum muslimin. Bahkan mereka semua mengaku
sebagai Ahlus Sunnah. Tapi siapakah Ahlus Sunnah itu? Dan siapa pula kelompok yang
disebut Rasulullah sebagai orang-orang asing?
Telah menjadi ciri perjuangan iblis dan tentara-tentaranya yaitu terus berupaya mengelabui
manusia. Yang batil bisa menjadi hak dan sebaliknya, yang hak bisa menjadi batil. Sehingga
ahli kebenaran bisa menjadi pelaku maksiat yang harus dimusuhi dan diisolir. Dan
sebaliknya, pelaku kemaksiatan bisa menjadi pemilik kebenaran yang harus dibela. Syi’ar
pemecah belah ini merupakan ciri khas mereka dan mengganggu perjalanan manusia menuju
Allah merupakan tujuan tertinggi mereka.
Tidak ada satupun pintu kecuali akan dilalui iblis dan tentaranya. Dan tidak ada satupun
amalan kecuali akan dirusakkannya, minimalnya mengurangi nilai amalan tersebut di sisi
Allah Subhanahu Wata’ala. Iblis mengatakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala:
“Karena Engkau telah menyesatkanku maka aku akan benar-benar menghalangi mereka
dari jalan-Mu yang lurus dan aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan
dan belakang, dan samping kiri dan samping kanan.”, (QS. Al A’raf : 17 )
Dalam upayanya mengelabui mangsanya, Iblis akan mengatakan bahwa ahli kebenaran itu
adalah orang yang harus dijauhi dan dimusuhi, dan kebenaran itu menjadi sesuatu yang harus
ditinggalkan, dan dia mengatakan: “Sehingga Engkau ya Allah menemukan kebanyakan
mereka tidak bersyukur.” (QS. Al A’raf: 17)
Demikian halnya yang terjadi pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Istilah ini lebih
melekat pada gambaran orang-orang yang banyak beribadah dan orang-orang yang
berpemahaman sufi. Tak cuma itu, semua kelompok yang ada di tengah kaum muslimin juga
mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Walhasil, nama Ahlus Sunnah menjadi rebutan
orang. Mengapa demikian? Apakah keistimewaan Ahlus Sunnah sehingga harus
diperebutkan? Dan siapakah mereka sesungguhnya?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus merujuk kepada keterangan Rasulullah
Shallallahu ‘Alahi Wasallam dan ulama salaf dalam menentukan siapakah mereka yang
sebenarnya dan apa ciri-ciri khas mereka. Jangan sampai kita yang digambarkan dalam
sebuah sya’ir:
Semua mengaku telah meraih tangan Laila
Dan Laila tidak mengakui yang demikian itu
Bahwa tidak ada maknanya kalau hanya sebatas pengakuan, sementara dirinya jauh dari
kenyataan.
Secara fitrah dan akal dapat kita bayangkan, sesuatu yang diperebutkan tentu memiliki
keistimewaan dan nilai tersendiri. Dan sesuatu yang diakuinya, tentu memiliki makna jika
mereka berlambang dengannya. Mereka mengakui bahwa Ahlus Sunnah adalah pemilik
kebenaran. Buktinya, setelah mereka memakai nama tersebut, mereka tidak akan ridha untuk
dikatakan sebagai ahli bid’ah dan memiliki jalan yang salah. Bahkan mengatakan bahwa
dirinya merupakan pemilik kebenaran tunggal sehingga yang lain adalah salah. Mereka tidak
sadar, kalau pengakuannya tersebut merupakan langkah untuk membongkar kedoknya
sendiri dan memperlihatkan kebatilan jalan mereka. Yang akan mengetahui hal yang
demikian itu adalah yang melek dari mereka.
As Sunnah
Berbicara tentang As Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali. Di samping
untuk mengetahui hakikatnya, juga untuk mengeluarkan mereka-mereka yang mengakui
sebagai Ahlus Sunnah. Mendefinisikan As Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu sisi
bahasa, syari’at dan generasi yang pertama, ahlul hadits, ulama ushul, dan ahli fiqih.
As Sunnah menurut bahasa
As Sunnah menurut bahasa adalah As Sirah (perjalanan), baik yang buruk ataupun yang
baik. Khalid bin Zuhair Al Hudzali berkata:
Jangan kamu sekali-kali gelisah karena jalan yang kamu tempuh
Keridhaan itu ada pada jalan yang dia tempuh sendiri.
As Sunnah menurut Syari’at Dan Generasi Yang Pertama
Apabila terdapat kata sunnah dalam hadits Rasulullah atau dalam ucapan para sahabat dan
tabi’in, maka yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukumhukum
baik yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau dengan amal, apakah hukumnya
wajib, sunnah atau boleh.
Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari 10/341 berkata: “Telah tetap bahwa kata
sunnah apabila terdapat dalam hadits Rasulullah, maka yang dimaksud bukan sunnah sebagai
lawan wajib (Apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila di tinggalkan tidak akan
berdosa, pent.).”
Ibnu ‘Ajlan dalam kitab Dalilul Falihin 1/415 ketika beliau mensyarah hadits ‘Fa’alaikum
Bisunnati’, berkata: “Artinya jalanku dan langkahku yang aku berjalan di atasnya dari apaapa
yang aku telah rincikan kepada kalian dari hukum-hukum i’tiqad (keyakinan), dan
amalan-amalan baik yang wajib, sunnah, dan sebagainya.”
Imam Shan’ani berkata dalam kitab Subulus Salam 1/187, ketika beliau mensyarah hadits
Abu Sa’id Al-Khudri, “di dalam hadits tersebut disebutkan kata ‘Ashobta As Sunnah’, yaitu
jalan yang sesuai dengan syari’at.”
Demikianlah kalau kita ingin meneliti nash-nash yang menyebutkan kata “As Sunnah”, maka
akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu: “Jalan yang terpuji dan langkah
yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah. Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang
yang menisbahkan diri kepada ilmu yang menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih
sehingga mereka terjebak dalam kesalahan yang fatal.
As Sunnah Menurut Ahli Hadits
As sunnah menurut jumhur ahli hadits adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang
diriwayatkan dari Rasulullah baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat baik
khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).
As Sunnah Menurut Ahli Ushul Fiqih
Menurut Ahli Ushul Fiqih, As Sunnah adalah dasar dari dasar-dasar hukum syaria’at dan
juga dalil-dalilnya.
Al Amidy dalam kitab Al Ihkam 1/169 mengatakan: “Apa-apa yang datang dari Rasulullah
dari dalil-dalil syari’at yang bukan dibaca dan bukan pula mu’jizat atau masuk dalam
katagori mu’jizat”.
As Sunnah Di Sisi Ulama Fiqih
As Sunnah di sisi mereka adalah apa-apa yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan
apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
Di sini bisa dilihat, mereka yang mengaku sebagai ahlus sunnah –dengan menyandarkan
kepada ahli fikih-, tidak memiliki dalil yang jelas sedikitpun dan tidak memiliki rujukan,
hanya sebatas simbol yang sudah usang. Jika mereka memakai istilah syariat dan generasi
pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika mereka memakai istilah ahli fiqih
niscaya mereka akan bertentangan dengan banyak permasalahan. Jika mereka memakai
istilah ulama ushul merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika mereka memakai
istilah ulama hadits sungguh mereka tidak memilki peluang untuk mempergunakan istilah
mereka. Tinggal istilah bahasa yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam melangkah,
terlebih menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya.
Siapakah Ahlus Sunnah
Ahlu Sunnah memiliki ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan
hakikat mereka.
1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya,
yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu
pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah
mereka. Rasulullah bersabda:
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian
orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)
2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al
Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan
Rasulullah. Firman Allah:
“Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan
Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah
baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)
“Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya
memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang
urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat
dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36)
3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman
Allah:
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan
Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah
sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)
4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam
semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah
bersabda tetang mereka:
“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan
asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu
Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)
5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka
tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik
mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan
ditolak kecuali ucapan beliau.”
6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan
sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.
7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai
dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan
bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum
muslimin.
8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia
yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.
9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama
menghendaki yang demikian itu.
Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah
orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam
berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi
geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya
dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orangorang
yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa
yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi
wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat
dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan
segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat
dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang
menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah),
Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti
hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan
orang yang mencerca.”
Ciri Khas Mereka
1. Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat
yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda:
“Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di
tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang
yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad)
Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing
dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia
terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada
keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan
jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing
pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama
mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.
Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan
seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil,
pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah
orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan
mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang
munkar menjadi ma’ruf.”
Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal 16-17
mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah
menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan
yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai
yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini
melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus
menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun
yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka,
sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”
2. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing yang telah
disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia.
Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah
Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah.
Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak
didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati
satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.
Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al Auza’i mengatakan tentang sabda
Rasulullah: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.”
Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak
tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf
yang memuji sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata
sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)
Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam
Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com
prosentase yang sedikit. Allah berfiman:
“Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
Dari pembahasan yang singkat ini, jelas bagi kita siapakah yang dimaksud dengan Ahlus
Sunnah dan siapa-siapa yang bukan Ahlus Sunnah yang hanya penamaan semata. Benarlah
ucapan seorang penyair mengatakan :
Semua orang mengaku telah menggapai si Laila
Akan tetapi si Laila tidak mengakuinya
Walhasil Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah
dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih.
posted by The Crew Ketaqwaan at 20.32

0 Comments:

Poskan Komentar

<< Home